Selasa, 28 Januari 2014

Berpolitiklah Secara Sehat dan Santun

JELANG Pemilu Legislatif 2014, yang kurang dari tiga bulan lagi, hawa panas politik berupa aksi pengeroyokan dan pembakaran sepertinya menjadi trend tersendiri. Seperti dialami Muhammad Azmuni alias Bodrex, caleg DPRA dari Partai Aceh (PA) yang mobilnya musnah dibakar OTK alias orang tak dikenal (Serambi, 20/1/2014). Belum lagi aksi pengeroyokan dan penculikan yang dialami Ramli dan Jufriadi, keduanya kader Partai Nasional Aceh (PNA), sepertinya semakin meningkatkan temperatur politik di daerah ini.
Dalam perebutan kekuasaan, ini memang bukanlah peristiwa baru. Aksi ‘bakar-bakar’ ini bahkan sudah dimulai dari tahun sebelumnya, lalu menyulut hingga tahun ini. Tidak tahu kapan api itu padam. Karena bisa jadi, usai pemilu api itu masih ‘menyala’. Ya, mungkin dinyalakan oleh mereka-mereka yang kalah dalam pertarungan politik.
Namun dari beberapa peristiwa yang terjadi, terlihat bahwa PA dan PNA lah yang kerap menjadi objek sasaran, baik pengeroyokan kader partai ataupun pembakaran harta bendanya. Kejadian-kejadian tersebut tentunya bukan terjadi dengan sendirinya dan tanpa sebab. Biasanya ada alasan kepentingan di balik itu sehingga tindakan anarkis pun terjadi. Misal, rasa tidak suka, permusuhan, ataupun khawatir kalah saingan. Karena seorang OTK pun tidak akan melakukan hal bodoh jika tidak ada yang memberi mandat atau hanya karena iseng semata.
 Acara ‘bakar-bakar’
Sebenarnya acara ‘bakar-bakar’ tidak akan menjadi masalah, itu tergantung pada apanya yang dibakar dan punya siapa yang dibakar. Misalnya, tahun lalu kami para siswa Sekolah Demokrasi Aceh Utara (SDAU) membuat acara bakar-bakar. Dalam acara tersebut tentunya tidak ada yang tersakiti ataupun merasa dirugikan, karena yang kami bakar adalah ayam kalasan dan bukan milik orang lain. Tidak ada unsur kemarahan apalagi harus dilaporkan ke polisi, karena memang tidak mengganggu dan merugikan orang lain. Yang ada hanyalah efek kenyang dan menyenangkan.
Nah, beda dengan aksi ‘bakar-bakar’ seperti yang terjadi di atas. Dalam aksi tersebut yang dibakar adalah mobil asli (bukan mobil-mobilan), dan poin pentingnya adalah mobil itu milik orang lain. Jika membakar mobil sendiri saja dianggap sebagai sebuah tindakan yang merugikan, apalagi yang dibakar adalah punya orang lain. Maka dapat ditebak, pembakaran yang terjadi selanjutnya adalah membakar emosi yang punya.
Aksi-aksi tersebut seolah menunjukkan bahwa praktik politik di negeri memang terkesan masih bar-bar. Dimana untuk perebutan kekuasaan, nyawa dan harta benda menjadi korban keganasan dari ambisi demi sebuah kursi. Tidak hanya itu, aksi tersebut juga menggambarkan ketidakdewasaan para pelaku politik yang masih akrab dengan perilaku-perilaku yang merendahkan. Sampai rakyat pun mual dibuatnya. Sekali lagi, ini dilakukan demi sebuah kedudukan bernama ‘kursi.’
Mungkin tidaklah mengherankan mengapa hari ini banyak yang mengejar kursi tersebut. Karena bisa dibilang ia adalah ‘kursi ajaib’. Bagaimana tidak, ketika seseorang berhasil menduduki satu ‘kursi ajaib’ itu, maka ia juga bisa membangun pabrik kursi. Tidak hanya kursi, mungkin ia juga bisa memproduksi meja, tempat tidur, bahkan lemari. Ajaib bukan? Jika begini keadaannya, maka istilah “apalah arti sebuah kursi” tentu saja tidak akan dianggap berbanding lurus dengan “apalah arti sebuah nama”.
Kursi kekuasaan memang begitu menggoda. Tetapi untuk mendudukinya, tentu saja tidak dibenarkan menghalalkan segala cara. Termasuk mengamuk dengan benda mati. Nilai etika yang diajarkan sejak kecil di sekolah dan madrasah tentu saja tidak hanya cukup tertera di rapor, tapi juga diterapkan. Karena jika tidak, maka tidak heran jika hari ini banyak orang berkata bahwa berbicara etika politik seperti berteriak di gurun pasir.
Padahal dalam etika partai politik sendiri, beda baju bukan berarti musuh. Ketika saya menggunakan baju biru, maka saya tidak boleh marah dengan mereka yang menggunakan warna merah, kuning, atau hijau. Apalagi kemudian membakarnya, karena belum tentu mereka yang menjadi musuh saya. Begitu juga dengan partai politik. Setiap ia berhak menang, tapi jangan memandang partai lain sebagai musuh yang harus ditaklukkan. Termasuk dimulai dari menaklukkan harta bendanya dari barang mewah menjadi rongsokan.
Jika kejadian-kejadian di atas benar terjadi karena alasan perebutan kekuasaan, maka ini adalah salah satu bentuk kegagalan kepemimpinan bahkan sebelum kepemimpinan itu dimulai. Jika begini kejadiannya, maka rugi saja menghafal butir-butir Pancasila sampai mulut berbusa. Padahal pada butir kedua sudah cukup jelas tertera bahwa kemanusiaan haruslah adil dan beradab. Sedangkan pengeroyokan dan pembakaran mobil adalah bentuk ketidakmanusiaan yang dekil dan berasap.
 Luntur kepercayaan
Potret tingkah laku seperti ini pun hanya akan semakin mencoreng adang hitam dunia perpolitikan. Tak hanya itu, keadaan seperti ini pun hanya akan membuat rakyat jengah dan luntur kepercayaannya kepada caleg-caleg atau partai yang bertikai. Bagaimana nantinya bisa meraih suara dan simpati masyarakat untuk memilih, jika aksi-aksi yang jauh dari kata keadaban seperti itu masih dipertontonkan.
Padahal dalam hal ini, kepemimpinan moral dan intelektual menjadi syarat utama sebelum berniat menduduki kekuasaan. Seperti yang dikatakan Antonio Gramsci (1891-1937) seorang filsuf Italia, bahwa kepemimpinan haruslah dijalankan bahkan sebelum merebut kekuasaan pemerintah. Jika itu saja tidak ada, bagaimana bisa memimpin rakyat banyak dan segala persoalannya. Dari persoalan miskin sampai harga bensin. Dari persoalan uang sampai harga bawang.
Dari itu, menjadi seorang pemimpin sama seperti orang berniat menikah, ia harus siap lahir batin. Tak baik hanya siap secara lahir dengan menyiapkan biaya untuk kampanye saja, tapi juga perlu menyiapkan batin berupa moral kepemimpinan dan intelektual. Ini menjadi sebuah persiapan penting karena dua hal tersebut juga ikut menentukan kualitas seorang pemimpin.
Berhubung ‘pesta pejabat’ (pemilu) pun semakin dekat, bagi yang mencalonkan diri sebagai wakil rakyat baiknya segera mempersiapkan diri dengan matang. Berhenti mempertontonkan aksi anarkis, adu jotos, atau pun ‘jual diri’ di pohon dan tiang listrik. Sudah saatnya turun ke masyarakat dan menyampaikan langsung visi-misi yang selama ini hanya ada di alam rencana. Lakukan sesuatu yang membuat Anda terlihat ada di tengah para konstituen dan rakyat yang Anda wakili. Jadi, berpolitiklah secara sehat dan santun!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar